Friday, September 08, 2006



Cinta Ayah Angkat
Jika berbicara cinta, saya bukan ahlinya. Tapi menyoalkan perasaan kasih sayang (cinta), yang saya dapatkan dari seseorang bisa terungkapkan dari perilaku. Lantara kasih sayang dari orang aku cintai itu membuat aku bertambah matang di perantauan. Bahkan aku bisa tumbuh mandiri dan kokoh di perantauan atas kasih sayangnya. Siapa sosok Ayah yang membuat aku lebih mandiri di DKI Jakarta?
Untuk menjawab itu belum saatnya. Yang jelas, atas jasa Papa--begitu aku bisa menyapanya--orientasi hidupku membaik dibandingkan hari sebelumnya. Dulunya, aku termasuk insan emosional. Mungkin terlahir di Pangkep, Sulawesi Selatan yang menurut orang memiliki tempramen tinggi. Tapi dengan arahannya aku semakin dewasa mendekati karakter Papa; yang sejuk, tenang dan 'intelektual'.
Selain perhatiannya yang besar, ternyata cara Beliau mendidikku sedikit berbeda. Beliau mendidik aku keteladanan. Salut! Beliau mengajari aku mandiri. Beliau terus memotivasiaku untuk menggapai sukses kecil guna memperoleh sukses besar. "Habib (begini Ia menyapaku) harus mengumpulkan sukses kecil. Sebab, sukses kecil bergumpal menjadi sukses besar," ujarnya suatu waktu.
Selain itu, beliau selalu memperingatkan aku berbakti kepada orang tua yang telah melahirkan aku, di kampung.
Terima kasih Papa! (HMS)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home