Tuesday, October 24, 2006

Tak Ada Alasan Kalah Bersaing! (1)
Masa kecil adalah masa tumbuh berkembang. Masa life is really beautiful. Di mana ditorehkan masa depan yang cerah. Berhasil tidaknya seorang di masa tua tergantung seperti apa melukiskan kanvas masa kecilnya. Dan, wahai adik-adikku goreskan masa depanmu di usia kanak-kanakmu kini. Ikuti kisahku!

Sifat anak-anak tak terlepas dari cemburu. Kondisi itu juga sering mendongkol dalam diriku di masa kanak-kanak. Tak mau kalah! Waktu itu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Meski usiaku masih kecil, saya punya cita-cita setinggi langit; Tak ingin menjadi petani kasar seperti saudara dan Bapakku. Hal ini memompa diriku untuk terus belajar meski uang SPP belum dibayar. Yang ada dalam diriku waktu itu, lebih baik putus cinta daripada putus sekolah. Karena itu, untuk membantu ekonomi keluarga (baca, orangtua) saya membantu di sawah, mengembala hewan ternak (sapi, kuda, bebek, dan itik). Dan terkadang, jualan kue tante dan orang lain. Adapun keuntungannya saya tabung untuk keperluan sekolah.

Semasa kecil, kata tante saya, saya tergolong anak rajin. Hampir tak pernah membantah perintah orang tua apalagi melawannya. "Karena itu, Bapakmu sedikit mengistimewakan Habibi--nama keluargaku--dibandingkan saudara yang lainnya. Meski tak terlalu mencolok," ungkap salah satu tante saya suatu waktu.

Memang selama ini saya menjalankan perintah orangtua dengan penuh ikhlas seperti kata guru agamaku. "Ketika mengerjakan perkejaan usahakan penuh keihlasan karena pekerjaan orang ikhlas hanya Allah yang membalasnya baik di dunia maupun akhirat kelak," terangnya di ruang kelas. Nasihat itu pun terus terngiang-ngiang dalam benakku. Sehingga sesibuk apapun dengan pelajaran, sepulang sekolah langsung ke sawah membantu orangtua sampai magrib. Meski ada pelajaran tambahan di kelas pada waktu yang sama, hati ini berupaya ikhlas membantu orangtua dan saudara yang sedang berjuang di sawah. Dan, ini mengalahkan keinginan mengikuti pelajaran tambahan di sekolah.

Melihat kakak-adikku dan orangtua sibuk di sawah, hati ini tak ikhlas meninggalkan pekerjaan itu. Apalagi meminta ijin pada orangtuaku untuk mengikuti pelajaran tambahan. Mesti saya tahu, jika minta ijin dengan baik pada Bapakku diberi ijin. Karena ini orangtuaku pernah memberi pilihan pada anaknya menjadi petani atau bersekolah. Hanya saya waktu itu saya takut dicemoh saudaraku, khususnya kakakku. Ketika saya diberi ijin oleh Bapakku, hati saudara-saudaraku dongkol dan tak jarang mengeluarkan kata-kata menyinggung.

Saat itu imajinasiku terus bayang menerawang setinggi langit. "Kenapa aku terlahir dari Bapak petani yang memberi kebebasan menuntut ilmu merahi cita-citaku. Tapi saudara-saudaraku terlihat "cemburu" jika diberi ijin mengikuti pelajaran tambahan di sekolah. Apa Tuhan tak adil atas pemberian ini pada diriku," keluhku pada Allah di tengah sawah pada waktu itu.

Piluhku pun terulang. Saat belajar kelompok di rumah temanku shidiq. Teman sekelas menurut saya waktu itu biasa-biasa saja dari segi kecerdasan hanya banyak diuntungkan mempunyai buku catatan yang lengkap. Otomatis dengan buku lengkap itu ia bisa belajar banyak, dan mempunyai orangtua bukan petani. Berbeda dengan saya tak punya buku catatan dan orangtuaku tak pernah mengajariku kecuali mengaji. Karena itu, saya sering meminjam buku darinya dan mengembalikannya sesuai waktu perjanjian.

Singkat cerita, tibalah saya di rumah teman baikku ini dengan terlambat. Karena sebelumnya, saya membantu orang tua di sawah beberapa jam. Saya temui teman-temanku sedang hanyut belajar di tengah bimbingan ayah Shidiq dengan sifat paternalistiknya. Waktu itu, hati saya kaget dengan situasi itu, pasalnya kondisi itu hal baru dalam kehidupannku. Seorang ayah bersabar mengajari anaknya memahami pelajaran.

Saat itu juga saya tak langsung masuk rumah Shidiq. Saya menyaksikan situasi yang baru dari luar rumah sambil berkata dalam hati. "Coba saya punya orangtua seperti bapaknya Shidiq, saya lebih bisa merahi cita-citaku setinggi langit." kataku lagi "Bisa nggak sih berhasil tanpa bimbingan? Jangankan bimbingan waktu belajar aja hampir tak bisa. Ada waktu belajar, tak ada buku acuan lagi," Keluhku.

Aku termenung sejenak dari luar rumah. Air mata ini tak sadar menetes. "Habibi, kenapa? Siapa yang pukul? Kok nangis," tanya Shidiq dari dalam rumahnya. Ngak Shidiq, saya tadi... saya tadi," kataku dengan bahasa Bugis. "Ngak usah nangis... sudahlah!" ujar teman sejatiku ini. Memang, Shidiq sudah tahu kalau saya anak cengeng dan mudah menangis. Hanya persoalan sepele misalnya tak diberi uang untuk perlengkapan sekolah saya sudah menangis. Karena itu, tak segang-segang Shidik memberikan hadiah bahkan mentraktirku di kanting sekolah.

Atas nasehat Shidiq, saya pun memasuki rumahnya. Sejurus kemudian, orangtua Shidiq menenangkan jiwaku, "Habibi tak usah sedih, BJ Habibie pencipta kapal yang kamu kagumi yang namanya mirip nama kamu tak cengeng. Habibi harus bersabar!" katanya dalam bahasa Bugis berwibawa. Saat itu pun saya bergabung dengan teman-temanku tanpa peduli dengan sorot mata mereka yang tajam. Hari itu, aku seperti lahir kembali dalam merahi sukses kecilku menuju sukses besar, sebagaimana buku yabng pernah saya baca. (HMS)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home