Wednesday, October 25, 2006

Tak Ada Alasan Kalah Bersaing! (2)

Setamat Sekolah Dasar (SD) orang tuaku menyarankan aku melanjutkan pendidikan di pesantren atas saran ustadz di surau. Saya pun menerimanya dengan ikhlas, meski awalnya sempat keberatan karena semua teman sepermainanku tak ada satupun yang melanjutkan sekolah di pesantren. Saya menerima perintah orangtua dengan alasan kecil waktu itu supaya saya bisa bebas di pesantren. Dan teryata benar, saya bisa belajar semau saya.

Tepatnya 1993 masehi saya menyelesaikan pendidikan dasar. Pada waktu itu, rata-rata teman sekelasku melanjutkan pendidikannya di sekolah umum, dan hanya saya sendiri di pesantren. "Bapak memasukkan Habibi di pesantren karena biayanya relatif murah. Tak ada biaya ongkos angkot, tinggal di asrama, meski kau ditinggal sendiri jauh dari keluarga. Dan biaya SPP pun murah. Pokoknya pesantren lebih bagus dari sekolah umum, daripada Habibi tak sekolah," kata salah seorang kakakku setelah mendengar isu tempat aku menimba ilmu selanjutnya.

"Habibi sekolah di pesantren aja dulu setelah tamat SMP kamu bisa melanjutkannya nanti di SMU. Kamu coba aja dulu bagaimana sekolah di pesantren," tambah saudara sepupuku waktu itu, memberiku semangat. Di tengah isu tempat melanjutkan sekolah, saya tak pernah sekalipun dipanggil oleh Bapakku membicarakan perihal ini. Semua isu itu, aku peroleh dari sumber lain. Yang aku harap waktu itu, Bapakku mendatangiku dan membicarakan hal itu, soal baik-buruknya melanjutkan pendidikan di pesantren. Karena saya menginginkan sosok orangtua yang bisa mengayomi dan menjelaskan apa adanya. Tapi kala itu tak pernah aku dipanggil menjelaskan alasananya memasukkan aku di pesantren. Meski aku tahu, yang berhak atas semua ini adalah Bapakku.

Aku sebenarnya tak terlalu memusingkan tempat menimba ilmu. Bagiku waktu itu, asal bisa sekolah dan tak putus sekolah. Dan, ini kata-kata yang sering terbayangkan dalam benakku. Ini pun menjadi tekadku, tak ingin putus sekolah hingga kapanpun.

Singkat cerita, aku pun tiba di pesantren Darul Istiqamah diantar kedua orangtuaku dan kakakku. Pesantren ini letaknya di Maccopa, Kabupaten Maros, Sulsel. Sekitar 100 km dari tempat kelahiranku Saat tiba pintu gerbang pesantren saya bersama keluarga dipersilahkan menuju asrama putra. Di depan, asrama dijemput kedua kakak kelasku waktu mengaji di musalla yang lebih dahulu belajar di pesantren ini. Kebetulan, keduanya sangat dikagumi oleh kedua orangtua dan saudaraku. Memang prestasi keduanya di pesantren itu sering diceritakan di kampung kami. Saya sempat salut. Dan ingin mengikuti jejaknya.

Dua bulan berlalu di pesantren. Ada pemandangan yang kurang sedap dari kedua "kakakku" itu. Ia tak pernah mengajariku, termasuk berbicara di hadapan umum. Meski berkali-kali memintanya. Ketika saya memintanya mengajariku, ia hanya bilang, "Habibi belajar sendiri. Nanti juga bisa," katanya waktu itu. Kala mendengar ucapannya, itu ada perasaan kecewa dan ingin keluar dari pesantren. Sebab, aku tahu persis orangtuaku memasukkan di pesantren agar dian membimbingku. Apalagi keduanya santri berprestasi dan pernah juara ceramah di pesantrenku.

Keinginanku keluar pesantren aku tahan sekuat tenaga dengan mencari habitat lain di luar keduannya. Selain itu, saya juga teringat pesan orangtua, "Jangan mengecewakan Ibu, kata Ibuku saat mengantrakanku dan sebelum meninggalkan pesantren. Meski persoalan itu sepele tapi, aku tak pernah habis pikir kenapa sangat pelit mengajariku, padahal kedua panutan di kampung kami. Apa keduanya takut bersaing denganku?

Menginginkan Sosok Orangtua Meski Ayah Angkat

Empat tahun berlalu di pesantren, dan saya pun duduk di bangku kelas 1 Aliyah (SMU). Kata orang, usia seperti masa mencari jati diri. Di tahun ini pula, seluruh kekuatan hidup menyatu untuk menggapai sukses di masa depan.

Kala itu ada santri baru, sebut saja Chairul, ia terlahir dari orangtua berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit terkemuka di kota Makassar. Menurut saya Chairul anak yang baik. Apalagi ia tak membedakan teman-temannya. Awal pertama mengenalnya, ia 'anak mama'. Mungkin karena ia yang tertua. Meski ia adik kelasku tapi saya akrab dengannya. Kedua orangtua Chairul sangat penyayang dan penyabar, sering membimbing anaknya saat datang ke pesantren. Ketika di mana Chairul tak diperkenankan pulang kampung, karena peratruan di pesantren itu, santri hanya diperkenankan pulang kampung 1 kali seminggu kecuali alasan tepat.

Dari pemandangan sore itu memberikan warna tersendiri bagiku. Orangtua Chairul, menambah kerinduan hatiku akan sosok ayah meski sebagai aku sebagai anak angkat. Karena tak mungkin saya punya orang tua hebat, cerdas, sukses, penyabar dan sifat baik lainnya. Bukan aku tak cinta dengan orangtua di kampung, justru aku sangat mengaguminya beberapa sisi. Tapi tak memberikanku beberapa sisi selama ini aku bisa dapat dari bapak angkatku kelak. Semoga dapat!

Setiap aku kalah dalam pristasi belajar. Dalam benakku ada saja alasan, "Memang saya seperti ini apa adanya," piluhku. Meski demikian saya masih tetap punya cita-cita setinggi langit. Dan saya yakin akan merahinya suatu waktu nanti, insya Allah bersama bapak angkatku.

Ternyata pembaca, aku dapatkan sosok ayah itu jauh di rantau, di Jakarta. Simak di episode ke-3. (HMS)

Catatan: Selama di pesantren, saya santri yang mendapatkan beasiswa dengan potongan SPP, uang pemondokan, uang asrama, uang makan. Yang jelas, saya membayarnya dengan supermurah. Pernah diminta tambahan bayaran. Dengan berani saya menghadap ke kantor tanpa sepengetahuan Bapak di kampung, "Orangtua saya tak mampu membayar sebesar itu. Daripada saya putus sekolah," harapku waktu itu. Karena saya tahu, kalau pembayaran itu aku harus bayar, apa yang akan dimakan oleh ibu-Bapak dan saudara-saudaraku. Padahal, penghasilan satu-satunya orangtuaku (padi) tak menggembirakan. Alhamdulillah, permintaanku diterima. Tapi, pembayaran supermurah itu tak diketahui oleh temanku, kuatir ada kecemburuan. Apalagi pelayanan di pesantren sama, tak ada yang diistimewakan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home